Wednesday, 17 February 2016
pelumas yang tepat bagi mesin kendaraan
Wednesday, 27 January 2016
Cold Cranking Simulator
Cold Cranking Simulator adalah metode testing yang dilakukan pada sebuah pelumas untuk mengetahui seberapa baik kualitas pelumas tersebut apabila diuji dalam suhu dingin. Biasanya pelumas akan diuji berdasarkan titik terendah yang disesuaikan dengan nilai Winter Viscosity.
- SAE 0W | -35'C | 6,200 cP Max
- SAE 5W | -30'C | 6,600 cP Max
- SAE 10W | -25'C | 7,000 cP Max
- SAE 15W | -20'C | 7,000 cp Max
- SAE 20W | -15'C | 9,500 cP Max
- SAE 25W | -10'C | 13,000 cP Max
Pelumas yang lulus uji dalam metode ini harus memiliki nilai Cold Cranking Simulator di bawah nilai tabel di atas. Semakin rendah nilai CCS sebuah pelumas, maka semakin baik pula kualitas pelumas pada saat suhu dingin. Memang di Indonesia hal seperti ini tidak terlalu dibutuhkan, tetapi semakin rendah nilai CCS sebuah pelumas, maka akan menjadi kebaikan saat dilakukan mesin dihidupkan pada pagi hari. Karena pelumas dengan nilai CCS rendah pasti akan melakukan perlindungan lebih optimal pada saat mesin pertama dihidupkan.
sumber : kaskus
Viscosity Index
Viscosity Index adalah nilai yang menentukan seberapa stabil pelumas pada suhu 40'C dan 100'C, makin tinggi nilainya, maka semakin stabil pelumas tersebut, dan semakin mahal harganya. Banyak orang beranggapan VI tidak dibutuhkan di negara Indonesia berdasarkan iklim, tetapi pantauan KV adalah pada 40'C dan 100'C sehingga nilai KV dibutuhkan untuk dianalisa guna menentukan seberapa baik nilai pelumas tersebut.
VI tertinggi dimiliki oleh pelumas dengan base stock Group III ke atas yaitu >140. Tetapi, tambahan additives akan mementukan seberapa nilai VI yang terbentuk, dan VI tidak dapat ditambah dengan additives post-mix. Sehingga jangan berharap menambah additives oli merek X akan menambah Viscosity Index pelumas yang Anda gunakan
Semakin tinggi rentang viskositas, semakin dibutuhkan Viscosity Index yang tinggi, maka oli dengan rentang viskositas 0W-50 sejatinya membutuhkan Viscosity Index yang lebih tinggi dari oli dengan rentang viskositas 0W-20. Dan semakin tinggi VI sebuah pelumas, sedikitnya akan menentukan pula seberapa panjang oli tersebut dapat digunakan.
sumber:kaskus
Kinematic Viscosity
Kinematic Viscosity atau KV adalah nilai atau besaran viskositas suatu pelumas pada suhu operasional, biasanya diukur pada suhu 40'C dan 100'C. KV adalah tingkat kekentalan suatu pelumas dan hubungannya dalam melepas panas. KV juga memiliki batasan-batasan yang sudah diatur, antara lain adalah:
Untuk 100'C
- SAE 0W : 3.8 cSt
- SAE 5W : 3.8 cSt
- SAE 10W : 4.1 cSt
- SAE 15W : 5.6 cSt
- SAE 20W : 5.6 cSt
- SAE 25W : 9.3 cSt
- SAE 20 : 5.6 cSt - 9.3 cSt
- SAE 30 : 9.3 cSt - 12.5 cSt
- SAE 40 : 12.5 cSt - 16.3 cSt
- SAE 50 : 16.3 cSt - 21.9 cSt
- SAE 60 : 21.9 cSt - 26.1 cSt
- SAE 70 : 26.1 cSt >
Apabila pelumas memiliki Viscosity Grade 0W-30 tetapi memiliki Kinematic Viscosity 100'C 15.1 cSt, maka pelumas tersebut harus dipertanyakan kualitasnya. Perumpamaan KV pada air bersuhu 20'C adalah 1 cSt, itu berarti makin turun nilainya maka makin encer atau makin mudah mengalir. Viskositas pelumas sudah diatur sedemikian rupa, sehingga saat 100'C tidak boleh sama dengan air, maka persepsi salah apabila ada seseorang yang mengatakan “Oli X encer kayak air jadi tidak bisa melumasi dengan sempurna,” tanpa bukti empiris ucapan itu hanya hoax belaka. Karena semakin encer maka semakin baik base stock dan juga additives pack yang digunakan, sehingga oli dengan tingkat kekentalan rendah memiliki resistansi yang lebih baik pada mesin. Hal tersebut terbukti dengan maraknya mobil-mobil baru yang beredar malah menggunakan oli 0W-20 atau 0W-30, jadi tidak ada hubungannya antara encer dan melindungi.
sumber : kaskus
Bisakah Pelumas Mobil Digunakan untuk Motor?
Secara umum, pelumas mesin mobil akan dapat digunakan untuk mesin motor matic, kalau untuk motor konvensional, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, karena ada karakteristik pelumas mobil yang sangat dilarang digunakan dalam mesin motor konvensional, hal yang perlu diperhatikan adalah:
Ilustrasi: Total Quartz 9000 Future GF-5 5W-30 pelumas Long Drain pertama yang diuji oleh TS hingga 10,000 Km di Honda Vario 110cc, memiliki sertifikasi yang dilarang untuk digunakan pada Motor Kopling Basah.
- Mitos Jumlah Molybdenum, banyak yang mengatakan pelumas motor konvensional tidak boleh mengandung friction modifier semisal Molybdenum atau Titanium yang bersifat melincinkan dan meningkatkan nilai fuel efficiency yang salah-salah bisa membakar kopling motor kesayangan Anda. Padahal pada kenyataannya bukan Friction Modifier yang membuat kopling motor Anda selip, tetapi Organic Additives semacam Graphite yang membuat kopling Anda selip. Jika tidak percaya, coba lihat Jumlah Molybdenum pada Motul 300V 4T bahkan jauh lebih tinggi daripada Molybdenum pada PCMO sekalipun, tetapi dari user tidak pernah ada yang mengeluh kopling-nya selip. Perlu diketahui, Molybdenum, Boron, atau Titanium hanya bereaksi dengan Logam saja, tidak dengan komposit organic yang mungkin ada di Kopling.
- API Resources Conserving atau API Energy Conserving, pelumas dengan API Starburst pasti mengacu kepada fuel efficiency, sehingga pasti pelumas akan sangat licin dan tidak dapat melumasi dan melindungi kopling secara bersamaan. API RC/EC biasanya menuntut oli bisa digunakan dalam jangka waktu yg lama dengan state stay-in-grade, sehingga perlu banyak Organic Additives dan tidak cocok dengan komposit kopling.
- ILSAC GF-5, tidak disarankan digunakan dalam motor konvensional, karena sifatnya sama seperti API RC/EC menjamin oli dapat digunakan dalam waktu yang lama, dan bisa menghemat bahan bakar.
- German Approval Oil, ya seperti namanya German Approval, mengacu kepada Manufacturer Jerman, seperti BMW, VW, dan Mercedes Benz. pelumas dengan sertifikasi baru mereka tidak cocok dengan motor kopling basah, karena ditakutkan mengakibatkan selip kopling. Terlebih pelumas dari pabrikan mereka menuntut Sustain Release untuk beberapa additives dan itu bisa berdampak kepada motor dengan kopling basah.
Apabila dahulu PCMO hanya bisa digunakan untuk motor matic saja, sementara pelumas HDEO bisa digunakan di motor matic atau motor manual, kini banyak yang menggunakan pelumas PCMO untuk motor dengan kopling basah, salah satu contohnya adalah ADNOC Voyager Silver 10W-40, Pertamina Fastron Techno 10W-40, dan Pertamina Fastron Fully Synthetic 0W-50. Penggunaan pelumas mobil pada motor akan menyebabkan beberapa dampak yang mungkin positif atau negatif tergantung kepada bagaimana Anda menanganinya. Tetapi, sepengalaman saya, penggunaan pelumas mobil lebih banyak efek positif ketimbang negatif-nya. Dan kita kembali ke rumusan awal, baik PCMO, HDEO, dan MCO adalah sama-sama Hydrocarbon Based, sehingga tidak masalah apabila Anda juga mau menggunakan MCO di mobil Anda, hanya saja limitasinya tambah banyak.\
sumber : kaskus
Apa perbedaan pelumas untuk mesin mobil dan mesin motor?
Secara fungsi, pelumas memiliki peran yang sama, mesin motor manual memiliki gearbox dan kopling yang menyatu dengan blok mesin, sehingga pelumas untuk mesin motor konvensional harus bisa melumasi mesin tanpa merusak komponen gearbox, terlebih kopling, karena kalau terlalu licin, kopling dapat selip dan mengakibatkan terbakar. Pelumas mobil secara umum tidak dapat melumasi kopling, sehingga sangat tidak cocok digunakan kepada mesin motor konvensional.
Mesin motor matic memiliki gearbox dan kopling terpisah dari blok mesin, sehingga pelumas hanya melumasi mesin saja, tanpa melumasi gearbox dan juga kopling. Hal ini sama dengan karakteristik mesin mobil yang memiliki kopling dan gearbox terpisah.
Perbedaan selanjutnya adalah antar mesin mobil dan mesin motor adalah suhu operasional, putaran mesin operasional,volume mesin dan kapasitas pelumas, serta daya kerja operasional. Secara teoritis, suhu operasional mesin motor lebih tinggi daripada suhu operasional mesin mobil karena absennya pendinginan stabil, atau radiator pada mesin motor, meski beberapa jenis motor sudah mengadopsi radiator, tetapi terkadang hal ini sering dilupakan para pemilik, sehingga fungsinya tidak optimal.
Selanjutnya adalah putaran mesin operasional motor lebih tinggi daripada mobil, tentu saja, mesin mobil memiliki lebih dari 1 silinder dengan kapasitas minimal 250cc per silinder, sehingga untuk menjalankan mobil tidak diperlukan tenaga putaran tinggi. Semakin banyak dan semakin tinggi kapasitas mesin, maka putaran operasionalnya makin rendah. Mobil bisa berjalan 100 Kmh dengan RPM hanya 2,500 RPM, sementara motor membutuhkan lebih dari 5,000 RPM untuk berjalan pada 100 Kmh. Tetapi perlu diperhitungkan, mobil berjalan 2,500 RPM dengan kondisi Long Stroke sementara motor berjalan 5,000 RPM dengan kondisi Short Stroke ingat pelumas bekerja untuk melumasi dinding silinder, piston, crankshaft, dan valve train, meski secara teoritis beban mobil terkesan ringan, tetapi secara volumetrik pelumasan lebih besar mobil berkali-kali lipat. Dan oleh sebab itu bisa dipastikan bahwa oli untuk mobil harus lebih baik daripada oli motor.
Ilustrasi: sebuah mobil dengan kapasitas mesin 3,500cc dan berat 2,200 Kg (1997 BMW E38 735iL) berjalan dengan kecepatan 160 Kmh hanya dengan 4,100 RPM di Tachometer.
Selanjutnya adalah volume mesin dan juga kapasitas pelumas. Dalam mobil berukuran mesin 1,000cc sampai 2,000 cc biasanya menggunakan 4 – 5 liter pelumas, itu berarti untuk dibutuhkan 2.5 mL pelumas untuk setiap cc mesinnya, sementara motor dengan kapasitas 100 cc – 125 cc membutuhkan pelumas 0.8 L, sehingga mesin motor membutuhkan 6.4 mL pelumas untuk setiap cc mesinnya. Hal tersebut tentu saja berpengaruh kepada tingkat retensi terhadap asam yang akan membuat pelumas cepat rusak. Secara rasio, seharusnya oli motor memiliki volumetrik lebih besar, dan itu berarti kerjanya lebih ringan dibandingkan mobil, apabila kita mengabaikan proses pelepasan panas.
Beban kerja sebenarnya tidak relevan apabila kita membandingkan motor dengan mobil, tetapi bisa kita jadikan acuan, bahwa kerja motor tidak seberat yang kita bayangkan.
- Motor, Beban: 150 Kg | Kapasitas Silinder: 110 cc | Ratio Silinder/Beban = 0.733 (Paling ringan)
- Mobil, Beban: 2,000 Kg | Kapasitas Silinder: 1,300 cc | Ratio Silinder/Beban = 0.65 (Moderate)
- Truk, Beban: 20,000 Kg | Kapasitas Silinder: 8,000 cc | Ratio Silinder/Beban = 0.4 (Paling berat)
Asumsi semua kendaraan di atas di hitung termasuk pengemudi dan penumpang penuh, dari hitungan tidak relevan di atas, kita bisa simpulkan truk memiliki ratio paling berat dan motor paling ringan, sementara mobil tidak seberapa berat dibandingkan dengan truk. Ini acuan sederhana saja, sementara hitungan aslinya lebih rumit, tetapi bisa disimpulkan bahwa oli mereka bisa saling digunakan bergantian, ya bisa saling pakai tetapi memiliki limit masing-masing.
sumber : kaskus
Monday, 29 December 2008
Langkah-langkah antikarat
2. sekrup serta lis karet pintu dan bagasi dibuka dengan hati-hati. Kemudian dilakukan proses lap dengan kain bila ada genangan air di area tersebut.
3. bila ada kedapatan bagian yang berkarat, bisa masih relative baru, akan langsung di ampelas. Selain berfungsi merontokkan, langkah ini diambil agar tidak menjalar ke area lain.
4. langkah berikutnya, pembubuhan bersifat top-side dengan spray-gun. Artinya, bagian dekat gril dan samping berupa door trim dan penutup bagasi menjadi prioritas pengerjaan.
5.pengerjaan selanjutnya difokuskan pada bagian kolong mesin atau bersifat under-side. Bagian bawah samping, sepatbor dan kolong menjadi focus penyemprotan. Spray-gun berkekuatan 5 pk disiapkan untuk hasil yang maksimalkan hingga merata.
6. selanjutnya bercak akibat penyemprotan di bodi dibersihkan dengan cairan pembersih
7. terakhir pengecekan ulang (cek dan ricek) pada setiap sudut pengerjaan.
Saturday, 25 October 2008
Power Steering
VW Passat Blue Motion hanya menkonsumsi 5.1 liter solar untuk jarak 100 km.
| Perawatan Power Steering Mobil |
| Selasa, 09 Januari 2007 | |
| Sistim power steering yang terus menerus bekerja tentu akan mengalami kerusakan jika tidak dirawat. Terutama buat mobil-mobil yang sudah berumur. Maka perlu diketahui bagian mana dan seperti apa rasanya jika pada rangkaian ini terjadi kerusakan. Cek Minyak Power Steering Kerusakan Umum Power Steering Kalau dibiarkan bisa menular ke komponen lain karena cairan yang semakin berkurang. Makanya, sebelum terlambat harus ganti baru. Jumlahnya satu set ada sepuluh biji. Sil lain yang juga sering jebol adalah yang terdapat di pompa. Gejala awal mirip-mirip, yaitu setir berat dan minyak sering habis. Cara gampang mengenalinya adalah dengan memperhatikan kondisi pompa. Jika disekujur bodinya terdapat minyak, berarti ada kebocoran. Kemudian slang. Peranti penyalur cairan ini jika tertekuk atau sudah getas bisa pecah, akibatnya isi minyak akan berkurang. Bisa juga lantaran klem-klemannya enggak kuat. Dapat diketahui dengan melihat ujungnya, apakah dibasahi oleh minyak atau tidak. Khusus buat pengikat, gunakan yang tidak melukai slang agar lebih aman. Jika kebocoran dibiarkan bisa mengakibatkan kerusakan pada kipas pompa. Karena tidak adanya minyak yang lewat mengakibatkan ujung kipas gores. Kalau masih tetap enggak diperbaiki, akan menyebabkan dinding kipas ikutan baret. Kalau sudah begini tidak bisa direkondisi lagi. Penyakit akibat kurang cairan lainya adalah as steering rack baret karena tidak adanya pelumasan yang maksimal. 'Luka' tersebut juga bisa membuat oli keluar. Cirinya, tinggal melihat permukaan as dengan membuka karet pelindungnya. Bisa dipastikan banyak rembesan pelumas. Dan ingat pada saat kendaraan parkir atau berhenti, posisi roda harus lurus dan jangan dibelokkan karena akan merusak sistim power steering. |