Showing posts with label angin. Show all posts
Showing posts with label angin. Show all posts

Wednesday, 17 February 2016

tekanan angin

Setelah mengetahui cara membeli ban yang benar, selanjutnya adalah melakukan perawatan terhadan ban tersebut. Sebenarnya merawat ban agar awet dan aman ini sangat mudah, tapi terkadang hal-hal kecil sering dilupakan pengendara. Berikut kembali tips dari Lili Ependi, Section Head R&D PT. Multistrada Arah Sarana(MASA), produsen ban Achilles dan Corsa, yang bisa diterapkan.

1.     Periksa selalu tekanan angin ban sesuai dengan yang disyaratkan pabrikan. Jika perlu, lakukan pemeriksaan setiap hari sebelum berangkat.
2.     Pengisian angin ban yang benar dilakukan pada pagi hari. Sebab, pada suhu dingin, angin yang masuk merupakan tekanan ideal. Jika mengisi setelah kendaraan digunakan, maka tekanannya akan meningkat karena gesekan ban dengan permukaan jalan.
3.     Sebaiknya gunakan angin jenis nitrogen karena cenderung membantu meredam panas sehingga tekanan angin tetap ideal.
4.     Bersihkan kerikil-kerikil yang menempel di sela-sela kembangan ban. Batu kerikil tersebut jika didiamkan berpotensi merobek kendaraan. “Karena bergesekan dengan aspal, maka ban akan panas dan melunak. Jika dibiarkan batu kerikil tersebut akan terus masuk lebih dalam,” tukas Lili.
5.     Jika kendaraan jarang digunakan tapi ban sudah menempel selama tiga tahun, sebaiknya lakukan penggantian dengan ban baru. Usia tiga tahun bagi ban merupakan umur maksimal karena ban makin lama akan makin keras dan mudah getas.
6.     Saat kendaraan ditinggal lama di garasi karena pergi keluar kota atau mudik, usahakan kontak antara ban dengan lantai diminimalisir. Pasalnya jika dibiarkan terlalu lama, konstruksi baja pada ban akan berubah menjadi tidak bulat utuh lagi. Hal ini akan berpotensi membuat ban benjol dan tidak nyaman digunakan. Solusinya, untuk mobil sebaiknya diangkat pake dongkrak dan motor setidaknya memfungsikan standar tengah agar ban tidak terlalu berat membawa beban kendaraan. (M. Lulut)

sumber : oto.co.id

Friday, 24 October 2008

Keausan ban

Mengamati Batas Keausan Ban

Menipisnya telapak ban mempunyai resiko yang tinggi, selain menyalahi pemakaian prosedur ban resiko pecah di jalan bisa mengakibatkan kecelakaan. Hal itu karena pemilik mobil kurang memperhatikan batas ketebalan telapak ban. Oleh pabrik pembuatnya sebelum ban keausan setiap ban yang diproduksi diberi tanda khusus. Bagaimana mengetahui batas keausan ban ?

Simak berikut ini :


Tanda batas keausan ban bisa disimak pada sisi atau dinding ban berbentuk panah atau segitiga. Lebih dikenal dengan tread wear indicator (TWI). Pada sekeliling dinding ban tercantum 6 tanda tersebut yang menunjukkan batas keausan ban.

Menurut Asosiasi Perusahaan Ban, batas minimal ketinggian telapak ban adalah 1.6 mm diukur berdasarkan kondisi permukaan ketebalan telapak yang rata dengan tanda TWI. Jika melewati batas tersebut ban sebaiknya diganti.

Simbol keausan ban yang lainnya berbentuk benjolan yang terletak di dalam alur posisinya sejajar dan segaris dengan patokan tanda TWI. Simbol ini dimaksudkan sebagai tanda peringatan keausan ban yang diukur dari dasar telapak ban.

Hal yang membahayakan bila sudah tampak lapisan serat benang atau baja. Hal ini bisa berisiko ban pecah ditengah jalan. Setidaknya ban diganti dalam jangka waktu setiap 60.000 km tergantung dari jam terbang kendaraan. Pada kondisi normal usia pemakaian ban rata-rata 2-3 tahun.

Biasakan memperhatikan tekanan angin ban karena porsi isi angin yang benar akan meratakan keausan ban. Tekanan ban yang kurang mengakibatkan pengikisan pada kedua sisi ban atau volume angin yang berlebihan menyebabkan pergesekan besar pada bagian tengah telapak ban.